Permasalahan

Air, sebuah unsur Bumi yang membentuk kehidupan. Seluruh makhluk hidup yang ada di muka Bumi memerlukan air untuk melangsungkan kehidupannya tidak terkecuali manusia. 2/3 Permukaan Bumi diisi oleh air dan hanya 1/3 adalah tanah, tempat tinggal para manusia.

Ketergantungan manusia tidak dapat dipisahkan mulai sejak zaman purba hingga saat ini. Namun, dewasa ini Bumi mulai menangis karena airnya teraniaya oleh keserakahan manusia. Mereka menggunakan air seperti budak dan menganggapnya seakan tak berarti. Manusia lupa menjaga air, manusia perlahan menuju liang kuburnya sendiri.

Karena ulah manusia, air mulai tidak bersahabat. Ketersediaan air mulai menipis dan terjadi pencemaran air di mana-mana. Tercatat beberapa fakta data yang termuat dalam halaman www.wikipedia,com sebagai berikut :

  1. 14.000 Orang meninggal setiap hari karena kasus pencemaran air
  2. 500.000.000 Orang tidak memiliki akses air minum bersih karena pencemaran air
  3. 90% Kota di China mengalami pencemaran air
  4. 45% Sungai di Amerika mengalami pencemaran air
  5. 47% Danau di Amerika mengalami pencemaran air
  6. 32% Teluk dan muara di Amerika mengalami pencemaran air

Enam fakta data di atas hanya merupakan bagian kecil dari seluruh kasus pencemaran air yang ada di seluruh dunia. Jika kita menyempitkan luasan permasalahan ke Indonesia, banyak juga hal yang ditemui berkaitan dengan ketersediaan air dan pencemaran air. Dalam beberapa media disebutkan bahwa indeks pencemaran air di Indonesia tiap tahunnya kian bertambah, beberapa kasus tersebut adalah sebagai berikut :

  1. http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/14/03/24/n2xa7z-75-persen-sungai-di-indonesia-tercemar-berat
  2. http://nasional.tempo.co/read/news/2015/08/09/058690336/sumber-air-warga-3-kecamatan-di-blora-mengandung-logam-berat
  3. http://ekuatorial.com/forests/indonesian-pencemaran-sungai-kian-memburuk#!/story=post-6804
  4. http://nasional.kompas.com/read/2012/04/05/23313147/Pencemaran.Sungai.di.Indonesia.Meningkat.30.Persen

Masih banyak sekali media yang memberitakan tentang pencemaran air yang terjadi di Indonesia. Hal ini dikarenakan oleh beberapa sebab, banyak diantaranya memang disebabkan oleh masyarakat itu sendiri, seperti contoh budaya membuang sampah yang masih sembarangan, pihak swasta yang membuang limbah sembarangan, dan lain sebagainya.

Di lain sisi, banyak orang yang tergabung dalam komunitas pecinta lingkungan atau bahkan individu yang tergerak untuk melestarikan lingkungan merasa dirugikan dan ingin segera diadakan perubahan dalam hal ini bersifat tindakan langsung pemerintah dalam mengambil kebijakan khususnya tentang pencemaran air. Namun, dari sisi pemerintah sendiri terkadang data dan kondisi lapangan tidak sama karena ada sebuah "missing link" yang terjadi di antara lapangan dan data tersebut. Data dalam beberapa kasus diambil melalui survey tim pemerintah yang cenderung dalam jangka waktu tertentu saja, tidak real time. Terlebih, saat ini belum ada sebuah platform yang dapat menghubungkan antara keluhan (aspirasi) masyarakat tentang pencemaran air dengan pemerintah langsung untuk menentukan langkah kebijakan strategis ke depan.

Air pada awalnya memang sumber kehidupan, namun saat air menjadi sumber kematian, akankah kita terus berpangku tangan melihat kondisi yang semakin memburuk?

Solusi

Hal pertama yang perlu menjadi dasar pemikiran adalah UUD RI 1945 Pasal 33 ayat 3 yang pada intinya adalah air merupakan unsur/komoditas yang dikuasai oleh negara. Dengan logika ini, jika terjadi masalah tentang air seyogyanya masalah ini juga menjadi masalah pemerintah.

Hal yang kami tawarkan untuk menyelesaikan beberapa permasalahan yang terjadi di Indonesia berkaitan dengan pencemaran air adalah kami menciptakan sebuah aplikasi yang dapat digunakan oleh masyarakat dengan smartphone android untuk memantau dan menyalurkan aspirasi dengan teknologi GPS mapping. Harapannya platform teknologi ini dapat menjadi jembatan penyelesaian antara masyarakat dan pemerintah. Dari segi masyarakat dapat menyampaikan keluhan dan langsung ditujukan pada pemerintah secara real time dan dari segi pemerintah dapat menerima laporan dari masyarakat dan melakukan pemetaan data (Big Data) sehingga harapannya dapat membuahkan sebuah kebijakan yang tepat di kemudian harinya.

Cara Kerja

  1. Pengguna melihat atau mengalami permasalahan pencemaran air yang terjadi pada daerah tertentu dimana lokasi pengguna berada. Pengguna juga dapat membagikan data kasus ketersediaan air atau pencemaran air yang terjadi pada daerah tersebut ke sosial media yang dimiliki oleh pengguna agar pengguna lain menjadi lebih mengetahui dan bersama dapat lebih melestarikan lingkungan hidup khususnya air.
  2. Pengguna melakukan validasi data pelapor dengan memasukkan nama lengkap, nomor KTP, nomor handphone, dan email. Hal ini dilakukan untuk menghindari hal-hal yang mengarah pada pemalsuan laporan.
  3. Pengguna menentukan tipe air yang akan dilaporkan kondisinya, air permukaan mencakup laut, sungai, dan danau atau air tanah (air sumur).
  4. Pengguna menentukan klasifikasi awal laporan berupa permasalahan pencemaran air atau air tidak mengalir/kering
  5. Pengguna memasukkan detil aspirasi berupa text. Di sini, pengguna dapat lebih leluasa menyampaikan apa yang terjadi pada lapangan.
  6. Pengguna dapat mengambil gambar lokasi pencemaran air/kekeringan air untuk menambah keabsahan data yang akan dikirimkan langsung pada pemerintah.
  7. Pengguna mengirim aspirasi dan ditujukan langsung pada pemerintah. Setelahnya pemerintah akan membalas laporan tersebut melalui nomor handphone atau email yang sebelumnya telah digunakan sebagai alat validasi pelapor/pengguna.

Dari segi pemerintah, data-data laporan yang masuk dari pengguna ini dapat dikumpulkan dan diamati untuk membuat kebijakan yang tepat dengan tindakan yang cepat sehingga ke depannya permasalahan ketersediaan air dan pencemaran air dapat diselesaikan.

Share this project:

Updates